Saturday, September 20, 2025

INOVASI MINI LNG CARRIER SEBAGAI SOLUSI MEMENUHI RANTAI PASOK DISTRIBUSI LNG SKALA KECIL DI INDONESIA

 

INOVASI MINI LNG CARRIER SEBAGAI SOLUSI MEMENUHI RANTAI PASOK DISTRIBUSI LNG SKALA KECIL DI INDONESIA

Saat ini bahan bakar minyak (BBM) merupakan sumber energi yang paling banyak digunakan di Indonesia. Namun ketersediaan BBM yang semakin berkurang mengakibatkan harga BBM semakin mahal. Gas Bumi merupakan salah satu cadangan energi yang dikembangkan oleh pemerinatah Indonesia sebagai alternatif untuk menjadikan negara ini mandiri dari bahan bakar minyak.

 


Untuk mengurangi ketergantungan akan BBM yang lebih efisien dan ekonomis, penggunaan LNG (Liquidfied Natural Gas) merupakan pilihan yang tepat sebagai bahan bakar di sektor pembangkit listrik tenaga gas, industri – industri, dan pemukiman.

Gas alam cair merupakan salah satu energi bersih yang memiliki emisi lebih rendah dari bahan bakar minyak dan efisien dibandingkan dengan bahan bakar minyak.

Dalam program RUPTL PLN, Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak di pembangkit listrik tenaga diesel dari 10% menjadi 6%. Pembangunan infrastruktur telah berkembang secara signifikan seperti dalam bentuk kilang LNG mini di Teluk Benoa, Bali untuk memasok pembangkit listrik tenaga gas sebesar 30 juta metrik standar kaki kubik per hari (mmscfd).

Volume gas alam dalam bentuk gas dibandingkan dengan Gas Alam Cair adalah 1:600. Dalam rantai pasokan LNG dari cadangan gas alam ke pembangkit listrik, gas alam memiliki penanganan kargo yang berbeda karena gas alam harus dicairkan terlebih dahulu menjadi -1620 Celcius sebelum dimasukkan dalam dalam ruang muat kapal LNG, sehingga proses transportasi dan distribusinya ke pembangkit atau industri  menjadi lebih  efisien.

Terdapat dua alternatif dalam menghubungkan sumber gas dan demand (pembangkit/industri) yaitu melalui jalur pipa gas dan kapal. Kapal menjadi solusi ekonomis bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dalam mendukung terpenuhinya distribusi gas kepada konsumen. Ketersediaan alat angkut maritim untuk distribusi gas belum didukung oleh kemampuan Indonesia dalam melakukan rekayasa kapal pengangkut LNG.

BPPT  sejak tahun 2020 telah mulai  melakukan Inovasi desain alat angkut maritim untuk memenuhi rantai pasok bahan bakar LNG, khususnya pada kondisi perairan dan fasilitas pendukung pelabuhan yang terbatas. Kapal Mini LNG  dengan type Landing Craft Tank (LCT) sebagai solusi alternative alat angkut LNG untuk memenuhi distribusi kebutuhan bahan bakar LNG untuk Pembangkit Listrik didaerah perairan terbatas. Kapal Mini LNG dirancang untuk  mengangkut LNG dalam ISO Tank ini diharapkan sudah selesai dibangun di akhir tahun 2022.

Kegiatan Inovasi ini sejalan dengan Inovasi Pengembangan Teknologi Maritim yang menjadi salah satu Prioritas Riset Nasional, berdasarkan RPJMN 2020-2024. Hal ini didasarkan pada urgensi bidang maritim khususnya pengadaan kapal baru, seperti diketahui bahwa kandungan lokal dalam pembangunan kapal baru berkisar 35% sedangkan 65% lainnya masih melalui impor.

Konsistensi pemerintah dalam mendukung tumbuhnya iklim industri maritim dan mengurangi ketergantungan pada produk impor ditunjukkan melalui penugasan kepada BPPT untuk melakukan Inovasi Kapal Angkut Gas Alam Cair sebagai salah satu PRN FLAGSHIP NASIONAL bidang Maritim. Kapal ini menjadi alternatif produk dalam negeri untuk pengangkutan LNG ke berbagai pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) skala kecil yang tersebar di wilayah kepulauan Indonesia khususnya wilayah Indonesia timur, dimana, seringkali distribusi LNG terkendala oleh kondisi jalur perairan laut dan sungai yang dangkal serta fasilitas pendukung pelabuhan yang terbatas .

Kondisi saat ini kebutuhan PLTG di Kepulauan Maluku dan Papua Barat dipasok dari kilang LNG Tangguh, sedangkan kebutuhan PLTG di pulau Bali dan Lombok dipasok dari fasilitas regasifikasi LNG pelabuhan Benoa.

Dalam mewujudkan tersedianya Kapal Mini LNG, BPPT tidak berjalan sendiri. Selain pendanaannya didukung oleh BAPPENAS terkait Prioritas Riset Nasional, BPPT juga  melibatkan beberapa stake holder seperti Institusi Pendidikan (ITS) yang melakukan kajian sistem distribusi dan PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) dalam hal pengembangan rule kemaritiman serta beberapa perusahaan industri perkapalan antara lain PT Lintech dan PT PAL terkait dengan kesiapan galangan kapal. Sambutan masyarakat maritim terhadap keberadaan Mini LNG Carrier ini sangat baik, terbukti salah satu perusahaan pelayaran swasta PT Cumawis anak perusahaan dari PT Samudera Indonesia telah menjalin kerjasama dengan BPPT untuk bersedia mengoperasikannya.

Selain melakukan desain Kapal Mini LNG, BPPT juga melakukan Inovasi pengembangan ISO Tank. Keberhasilan program ini akan menjadi tonggak sejarah pertama kali, dimana  Kapal Tanki pengangkut LNG didesain dan dibangun didalam negeri. Hal ini sebagai upaya untuk peningkatan TKDN dalam rangka kemandirian di bidang infrastruktur pasokan energi.

Kebutuhan Kapal Mini LNG untuk distribusi LNG dalam rangka memenuhi kebutuhan PLTG untuk rute Bali – Nusa Tenggara Barat – Nusa Tenggara Timur berjumlah 32 kapal, untuk rute Bali dan Lombok berjumlah 7 kapal. Sedangkan untuk Kepulauan Maluku dan Papua Barat yang dipasok dari kilang LNG Tangguh dibutuhkan tidak kurang dari 30 kapal.

Kapal Mini LNG type LCT dengan muatan LNG dalam ISO Tank ini dipilih berdasarkan alasan ekonomis. disamping keuntungan lain seperti: dapat melayani kebutuhan PLTG di pulau-pulau kecil dengan kedalaman air terbatas, membutuhkan terminal penerima berukuran kecil; dan kompleksitasnya lebih rendah.

Kapal Mini LNG Carrier type LCT ini memiliki dimensi 56 m dengan sarat air rendah 2,5 m dan geladak luas untuk mengangkut 36 Modul ISO Tank berukuran 20 feet dengan kapasitas daya angkut 1000 CBM LNG.

Kapal ini juga dilengkapi dengan alat bongkar/muat Gantry Crane dan Ram Door, sehingga penanganan kargo lebih mudah dan tidak memerlukan derek dan atau alat bongkar/ muat di pelabuhan/terminal untuk memuat dan membongkar ISO Tank. Dengan demikian berarti dapat menghemat biaya Loading-unLoading dan biaya penanganan muatan terminal secara signifikan.

No comments:

Post a Comment