Saturday, September 6, 2025

Pasokan Gas Alam Cair (LNG) untuk PLN/PLTMG Kawasan Timur Indonesia

 

                 Pasokan Gas Alam Cair (LNG) untuk PLN/PLTMG Kawasan Timur Indonesia

Gas alam seperti halnya dengan minyak bumi, terbentuk secara alamiah dan dieksplorasi dari lokasi sumur gas yang terletak jauh dari konsumen. Penggunaan pipa sebagai sistem transmisi dan distribusi, memiliki beberapa kekurangan yaitu hanya untuk jarak yang relatif dekat, dan jalur bersifat tetap (fix distribution system), dengan kata lain masih diperlukan sarana distribusi alternatif yang mampu mengangkut gas dalam jumlah besar dan tidak terikat batasan jarak. Cara yang paling efektif untuk mengangkut gas yaitu dalam bentuk cair dengan menggunakan kapal. Transportasi LNG sangatlah tergantung dengan teknologi kapal LNG, yang mana teknologi ini telah dikembangkan lebih dari 50 tahun yang lalu.

Permintaan kebutuhan gas bumi sebagai salah satu sumber energi di wilayah Indonesia khususnya bagian timur semakin meningkat dari tahun ke tahun. Seiring dengan berjalannya program listrik 35.000 MW yang telah dicanangkan oleh pemerintah saat ini, kebutuhan gas tersebut diprediksi akan terus meningkat ketika gas bumi tersebut akan digunakan sebagai bahan bakar utama pembangkit tenaga listrik menggantikan minyak diesel yang mempunyai biaya kelistrikan (electricity cost) lebih tinggi dibandingkan gas bumi.

Terkait dengan penyediaan infrastruktur energi, rencana usaha penyediaan tenaga listrik PT. PLN (Persero) tahun 2018-2027 yang berkesinambungan dari RUPTL 2015-2024, RUPTL 2017-2026, menggariskan kebijakan untuk mitigasi perubahan iklim global di antaranya dengan pengalihan bahan bakar (fuel switching). Dengan motif untuk mengurangi pemakaian BBM, PLN berencana mengalihkan pemakaian BBM ke gas pada PLTG, PLTGU dan PLTMG (gas engine). Langkah fuel switching secara langsung juga akan mengurangi emisi Gas Rumah Kaca karena faktor emisi gas lebih rendah daripada faktor emisi BBM. Namun mengingat harga gas dari LNG masih dinilai sangat tinggi, maka gas ini hanya ekonomis untuk dipakai di pembangkit peaking, bukan pembangkit beban dasar. PLN merencanakan pemanfaatan LNG untuk pembangkit beban puncak dan pembangkit yang bersifat must-run di sistem kelistrikan Jawa - Bali dan Sumatera. Pada tahun 2012 telah mulai beroperasi FSRU Jakarta untuk memasok pembangkit Muara Karang dan Priok.

Rencana FSRU Belawan telah dibatalkan oleh Pemerintah dan sebagai gantinya Pemerintah akan merevitalisasi fasilitas LNG Arun sebagai storage dan regasifikasi LNG. Sumber LNG untuk FSRU Jakarta pada saat ini berasal dari lapangan Bontang dan Tangguh, dan sumber LNG untuk Arun direncanakan dari lapangan Tangguh. Sedangkan di Kawasan Timur Indonesia, PLN merencanakan pemanfaatan mini-LNG untuk pembangkit beban puncak pada sistem-sistem besar di Kalimantan dan Sulawesi.

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan mini-LNG juga akan dimanfaatkan untuk pembangkit beban dasar sekaligus beban puncak pada sistem-sistem kecil yang banyak tersebar. Hal ini disebabkan biaya pokok produksi PLTMG dengan mini-LNG diperkirakan masih lebih ekonomis dibanding pembangkit BBM, juga lebih andal. 

Untuk   pembangkit   listrik    kawasan    Timur    Indonesia    dengan perkiraan kebutuhan gas 105 BBTUD direncanakan dipasok dari lapangan Matindok, lapangan Tangguh, dan lapangan Salawati dalam rangka mendukung program Papua terang. (RUPTL PLN 2017-2026, 2017). Berdasarkan kebutuhan LNG untuk bahan bakar pembangkit listrik di seluruh kawasan Timur Indonesia, maka kebutuhan untuk Smalll Scale LNG Carrier sangat diperlukan untuk kawasan Timur Indonesia. Selain itu komponen kapal Mini LNG ini juga unik jika dibandingkan jenis kapal lainnya, baik dari sisi sistem penggeraknya maupun sistem peralatan untuk handling LNG agar tetap terjaga kualitas dan safetynya.

Disisi lain penggunaan pipa sebagai sistem transmisi dan distribusi, memiliki beberapa kekurangan yaitu hanya untuk jarak yang relatif dekat, dan jalur bersifat tetap (fix distribution system), dengan kata lain masih diperlukan sarana distribusi alternatif yang mampu mengangkut gas dalam jumlah besar dan tidak terikat batasan jarak.

Cara yang paling efektif untuk mengangkut gas yaitu dalam bentuk cair dengan menggunakan kapal. Transportasi LNG sangatlah tergantung dengan teknologi kapal LNG termasuk cara handlingnya.

No comments:

Post a Comment