PEMETAAN GALANGAN KAPAL SURABAYA DAN SEKITARNYA.
I. Identifikasi Galangan Kapal
Identifikasi galangan kapal ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kondisi aktual galangan sehubungan dengan aktivitas yang dilakukan, dalam hal ini bangunan baru kapal. Ukuran galangan kapal dapat kelompokkan menjadi galangan kecil; galangan sedang; galangan besar; dan galangan sangat besar yang ditinjau dari berbagai kategori (Schlott, 1985). Adapun dalam kajian Pemetaan galangan kapal di Surabaya dan sekitarnya dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar, yaitu :
Kelompok Galangan Menengah-Besar
1. PT
Dumas Tanjung Perak Shipyard (Surabaya);
2. PT
Adiluhung Sarana Segara Indonesia (Bangkalan);
3. PT.
Dok dan Perkapalan Surabaya (Surabaya);
4. PT.
Orela Shipyard (Gresik);
5. PT.
Lamongan Merine Idustry/DRU (Lamongan).
Kelompok
Galangan Menengah-Kecil
1. PT. Marina (Gresik);
2. PT. Mitraarta (Gresik);
3. PT. Ben Santosa (Surabaya);
4. PT. Najatim Shipyard (Surabaya);
5. PT. PT. Pelni Shipyard (Surabaya);
6. PT. Lintech Duta Pratama (Lamongan).
II. Metode
Penilaian
Penilaian teknologi merupakan tinjauan teknologi yang teratur tentang kekuatan dan kelemahan teknologi yang berkaitan dengan produk dan proses (dalam konteks bisnis saat ini dan di masa mendatang). Penilaian teknologi dapat berupa : melakukan pemeriksaan dan audit terhadap teknologi yang digunakan serta melakukan perbandingan dengan dasar bench-marking antara teknologi yang digunakan terhadap praktek industri terbaik. Penilaian teknologi menurut Lowe (1995).
Teknologi terdiri dan kombinasi empat komponen dasar yang membangunnya, yaitu perangkat teknologi (technoware), manusia (humanware), informasi (infoware), dan organisasi (orgaware) yang disebut dengan metode teknometrik (United Nation-Economics and Social for Asia and the Pasifik, 1989). Empat komponen teknologi yang memainkan peran penting dalam menciptakan dan membangun posisi kompetitif untuk sebuah perusahaan (sumber: Sharif, 1995 dalam Smith, 2007). Dengan melihat interakasi dinamis pada komponen-komponen tersebut maka tingkat kecanggihan suatu teknologi dapat diketahui (Khafidho, 2014).
Survei galangan telah dilakukan ke beberapa galangan di Surabaya dan sekitarnya yang bertujuan untuk melakukan pemetaan potensi industri galangan kapal nasional di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Pemetaan ini dilakukan melalui pengisian kuesioner dan wawancara secara langsung untuk mengukur kemampuan teknologi produksi berbasis PWBS pada pembangunan kapal, yang meliputi 4 (empat) aspek yaitu: Technoware, Humanware, Infoware, dan Organware. Hasil riset ini dapat memberikan gambaran potret industri galangan di wilayah ini dan potensi pengembangan sinerji dan klaster industri, yang berorientasi pada peningkatan produktivitas dan daya saing industri galangan kapal nasional.
Pengukuran komponen teknologi telah dilakukan pada galangan kapal di Surabaya dan sekitarnya sepanjang tahun 2016 dan 2017.
Terdapat 5 tahapan penghitungan untuk memperoleh nilai TCC (technology contribution coefficient), yaitu:
1. Estimasi
derajat kecanggihan : adalah setiap
komponen mempunyai batas bawah (lower limit) dan batas atas (upper limit).
2.
Pengkajian state of the art
: State of the art (SOTA) adalah tingkat kompleksitas
dari masing-masing komponen teknologi. Menurut Hany (2000), penentuan status
komponen teknologi terhadap SOTA-nya memerlukan pengetahuan teknis yang dalam.
Pendekatan yang digunakan untuk mengkaji SOTA komponen teknologi didasarkan
pada kriteria generik. Generik adalah kriteria yang dikembangkan dengan sistem
rating SOTA keempat komponen teknologi. Setiap kriteria diberi skor nol untuk
spesifikasi terendah dan skor 10 untuk spesifikasi terbaik. Skor untuk nilai
spesifikasi diantaranya dilakukan dengan bantuan interpolasi. Hasil pada
tahapan ini adalah setiap komponen teknologi mempunyai nilai SOTA yang
merupakan rata-rata dari skor masing-masing kriterianya.
3.
Penentuan kontribusi komponen : Kontribusi komponen ditentukan dengan
menggunakan nilai-nilai yang telah diperoleh dari batasan derajat kecanggihan
(tahap 1) dan rating SOTA (tahap 2). Nilai kontribusi merupakan nilai yang
dapat digunakan untuk menduga besarnya kontribusi masing-masing komponen
teknologi (T, H, I dan O) terhadap nilai TCC.
4.
Pengkajian intensitas
kontribusi komponen : Intensitas
kontribusi komponen dapat dilakukan dengan menggunakan matrik perbandingan
berpasangan. Prosedurnya adalah keempat komponen teknologi diatur secara
hierarki dengan urutan kepentingan meningkat. Nilai-nilai tersebut kemudian
ditransformasikan ke dalam prosedur perbandingan berpasangan. Perbandingan
berpasangan harus memenuhi syarat konsistensi, artinya memenuhi aturan ordinal.
Hasilnya, akan diperoleh
nilai intensitas kontribusi (β) yang menyatakan tingkat kepentingan
masing-masing komponen. Secara umum dapat dikatakan bahwa bila suatu komponen
memiliki urutan tingkat kepentingan
lebih besar dari komponen lainnya, maka β komponen tersebut akan lebih besar
dari yang lainnya.
5.
Penghitungan TCC
: Berdasarkan nilai T, H, I, O dan nilai β-nya,
koefisien kontribusi teknologi (TCC) dapat dihitung. Nilai TCC maksimum satu.
Nilai TCC dari suatu perusahaan menunjukkan
kontribusi teknologi dari operasi transformasi total terhadap output.
Menurut Wiraatmaja dan Ma’ruf (2004), nilai dari TCC dapat menunjukkan level
teknologi pada suatu perusahaan. Klasifikasi yang disajikan pada Tabel 1. merupakan klasifikasi
menurut Fauzan et al. (2009) yang merupakan modifikasi dari klasifikasi menurut
Wiraatmaja dan Ma’ruf (2004).
Tabel 1. Penilaian kualitatif TCC
|
Nilai TCC |
Klasifikasi |
Klasifikasi |
|
0,0 <TCC≤0,1 |
Sangat
rendah |
Tradisional |
|
0,1<TCC≤0,3 |
Rendah |
|
|
0,3<TCC≤0,5 |
Wajar |
Semi modern |
|
0,5<TCC≤0,7 |
Baik |
|
|
0,7<TCC≤0,9 |
Sangat baik |
Modern |
|
0,9<TCC≤1,0 |
Kecanggihan mutakhir |
Sumber: Fauzan et.al. (2009)
III. Analisa Hasil
Pengukuran Teknologi Galangan Kapal
Berdasarkan perhitungan sebelumnya, setelah nilai derajat kecangihan keempat komponen dan nilai intensitas yag diperoleh dari analisis perbandingan tingkat kepentingan dengan AHP diketahui, maka selanjutnya nilai TCC dapat ditentukan, seperti pada tabel 3.90. Hasil perhitungan TCC pada tabel 2, menunjukkan bahwa nilai TCC dari masing-masing galangan kapal yang diteliti yaitu: 0.543 untuk PT. Dumas, 0.452 untuk PT. ASSI, 0.412 untuk PT. DPS, 0.422 untuk PT. Orela dan 0.426 untuk PT. LMI. Hasil TCC dapat disajikan dengan menggunakan diagram technoware (T), humanware (H), inforware (I) dan orgaware (O) atau yang disebut juga diagram THIO, dimana lewat diagram ini akan terlihat kesenjangan pada nilai gap THIO yang ada di galangan kapal dan state of the art.
Tabel 2. Hasil perhitungan nilai TCC
komponen teknologi di galangan kapal
|
Tehnology Component |
PT. Dumas |
||||
|
Intensitas |
Kontribusi Komponen |
TCC |
|||
|
Technoware |
0.16 |
0.350 |
0.543 |
||
|
Humanware |
0.39 |
0.684 |
|||
|
Inforware |
0
13 |
0.375 |
|||
|
Orgaware |
0.26 |
0.527 |
|||
|
Inconsistent Ratio =
Tehnology Component |
0.051 |
|
|
||
|
|
PT.
ASST |
|
|||
|
Intensitas |
Kontribusi Komponen |
TCC |
|||
|
Technoware |
0.459 |
0.319 |
0.412 |
||
|
Humanware |
0.205 |
0.596 |
|||
|
Inforware |
0.147 |
0.369 |
|||
|
Orgawarc |
0.189 |
0.560 |
|||
|
Inconsistency Ratio = |
0.036 |
PT. DPS |
|
||
|
Tehnology Component |
|||||
|
Intensitas |
Kontribusi Komponen |
TCC |
|||
|
Technoware |
0.375 |
0.390 |
0.480 |
||
|
Humanware |
0.336 |
0.627 |
|||
|
Inforware |
0.101 0.190 |
0.394 0.505 |
|||
|
Orgaware |
|||||
|
Inconsistency Ratio = |
0.060 |
|
|
||
|
|
PT.
Orela Shipyard |
||||
|
Tehnology Component |
Intensitas |
Kontribusi Komponen |
TCC |
||
|
Technoware |
0.419 |
0.308 |
0.422 |
||
|
Humanware |
0.171 |
0.626 |
|||
|
Infbrware |
0.150 |
0.398 |
|||
|
Orgaware |
0.260 |
0.560 |
|||
|
Inconsistency Ratio = |
0.067 |
|
|
||
|
|
PT. LMI |
||||
|
Tehnology Component |
Intensitas |
Kontribusi Komponen |
TCC |
||
|
Technoware |
0.370 |
0.354 |
0.426 |
||
|
Humanware |
0.278 |
0.567 |
|||
|
Infbrware |
0.205 |
0.336 |
|||
|
Orgaware |
0.146 |
0.548 |
|||
|
Inconsistency Ratio = |
0.079 |
|
|
||
Untuk pemetaan dari nilai kontribusi kesiapan
teknologi yang ada di 5 galangan kapal yang diukur, maka dapat dilihat gap
keseluruhan seperti pada gambar 1.
PEMETAAN KOMPONEN TEKNOLOGI GALANGAN KAPAL DI SURABAYA DAN SEKITARNYA
Gambar 1. Grafik Pemetaan Diagram THIO
di Galangan Kapal di Surabaya dan sekitarnya pada tahun 2016.
Pemetaan yang ditunjukan pada gambar 1 tidak terlalu menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antar galangan kapal yang ada, hal ini dikarenakan galangan kapal yang diteliti mempunya karakteristik yang sama yaitu dari jenis fasilitas dan metode yang diterapkan dalam proses tranformasi, dalam hal ini pembangunan kapal cenderung sama. Hasil pengukuran yang dilakukan di galangan kapal ini dapat menjadi acuan penting untuk pengembangan dari ke empat komponen teknologi, sehingga terkait hal itu untuk pengukuran gap TCC yang dilakukan secara keseluruhan di galangan kapal yang diteliti yaitu seperti yang ditunjukan tabel 3.
Data yang pada tabel 3 menunjukan bahwa gap yang ada masih cukup besar, dimana PT Dumas 0.457, PT. ASSI 0.588, PT. DPS 0.520, PT. Orela 0.578 dan PT. LMI 0.574. Secara langsung dapat dijelaskan bahwa kondisi teknologi galangan kapal yang ada jika dibandingkan dengan nilai state of the art masih membutuhkan perbaikan cukup besar.
|
Tehnology |
PT.Dumas |
PT. ASSI |
PT.DPS |
PT.Orela |
PT.LMI |
|
TCC |
TCC |
TCC |
TCC |
TCC |
|
|
Technoware |
0.543 |
0.412 |
0.480 |
0.422 |
0.426 |
|
Humanware |
|||||
|
Inforware |
|||||
|
Orgaware |
|||||
|
GAP
= |
0.457 |
0.588 |
0.520 |
0.578 |
0.574 |
