INOVASI MINI LNG CARRIER SEBAGAI SOLUSI
MEMENUHI RANTAI PASOK DISTRIBUSI LNG SKALA KECIL DI INDONESIA
Saat ini bahan bakar minyak (BBM) merupakan
sumber energi yang paling banyak digunakan di Indonesia. Namun ketersediaan BBM
yang semakin berkurang mengakibatkan harga BBM semakin mahal. Gas Bumi
merupakan salah satu cadangan energi yang dikembangkan oleh pemerinatah
Indonesia sebagai alternatif untuk menjadikan negara ini mandiri dari bahan
bakar minyak.
Untuk mengurangi ketergantungan akan BBM
yang lebih efisien dan ekonomis, penggunaan LNG (Liquidfied Natural Gas) merupakan pilihan yang tepat sebagai bahan
bakar di sektor pembangkit listrik tenaga gas, industri – industri, dan
pemukiman.
Gas
alam cair merupakan salah satu energi bersih yang memiliki emisi lebih rendah
dari bahan bakar minyak dan efisien dibandingkan dengan bahan bakar minyak.
Dalam
program RUPTL PLN, Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan untuk
mengurangi konsumsi bahan bakar minyak di pembangkit listrik tenaga diesel dari
10% menjadi 6%. Pembangunan infrastruktur telah berkembang secara signifikan
seperti dalam bentuk kilang LNG mini di Teluk Benoa, Bali untuk memasok
pembangkit listrik tenaga gas sebesar 30 juta metrik standar kaki kubik per
hari (mmscfd).
Volume
gas alam dalam bentuk gas dibandingkan dengan Gas Alam Cair adalah 1:600. Dalam
rantai pasokan LNG dari cadangan gas alam ke pembangkit listrik, gas alam
memiliki penanganan kargo yang berbeda karena gas alam harus dicairkan terlebih
dahulu menjadi -1620 Celcius sebelum dimasukkan dalam dalam ruang
muat kapal LNG, sehingga proses transportasi dan distribusinya ke pembangkit
atau industri menjadi lebih efisien.
Terdapat
dua alternatif dalam menghubungkan sumber gas dan demand (pembangkit/industri)
yaitu melalui jalur pipa gas dan kapal. Kapal menjadi solusi ekonomis bagi
Indonesia sebagai negara kepulauan dalam mendukung terpenuhinya distribusi gas
kepada konsumen. Ketersediaan alat angkut maritim untuk distribusi gas belum
didukung oleh kemampuan Indonesia dalam melakukan rekayasa kapal pengangkut LNG.
BPPT sejak tahun 2020 telah mulai melakukan Inovasi desain alat angkut maritim
untuk memenuhi rantai pasok bahan bakar LNG, khususnya pada kondisi perairan
dan fasilitas pendukung pelabuhan yang terbatas. Kapal Mini LNG dengan type Landing Craft Tank (LCT) sebagai
solusi alternative alat angkut LNG untuk memenuhi distribusi kebutuhan bahan
bakar LNG untuk Pembangkit Listrik didaerah perairan terbatas. Kapal Mini LNG dirancang untuk mengangkut LNG dalam ISO Tank ini diharapkan
sudah selesai dibangun di akhir tahun 2022.
Kegiatan
Inovasi ini sejalan dengan Inovasi Pengembangan Teknologi Maritim yang menjadi salah
satu Prioritas Riset Nasional, berdasarkan RPJMN 2020-2024. Hal ini didasarkan
pada urgensi bidang maritim khususnya pengadaan kapal baru, seperti diketahui
bahwa kandungan lokal dalam pembangunan kapal baru berkisar 35% sedangkan 65%
lainnya masih melalui impor.
Konsistensi
pemerintah dalam mendukung tumbuhnya iklim industri maritim dan mengurangi
ketergantungan pada produk impor ditunjukkan melalui penugasan kepada BPPT untuk
melakukan Inovasi Kapal Angkut Gas Alam Cair sebagai salah satu PRN FLAGSHIP
NASIONAL bidang Maritim. Kapal ini menjadi alternatif produk dalam negeri untuk
pengangkutan LNG ke berbagai pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) skala kecil
yang tersebar di wilayah kepulauan Indonesia khususnya wilayah Indonesia timur,
dimana, seringkali distribusi LNG terkendala oleh kondisi jalur perairan laut
dan sungai yang dangkal serta fasilitas pendukung pelabuhan yang terbatas .
Kondisi
saat ini kebutuhan PLTG di Kepulauan Maluku dan Papua Barat dipasok dari kilang
LNG Tangguh, sedangkan kebutuhan PLTG di pulau Bali dan Lombok dipasok dari
fasilitas regasifikasi LNG pelabuhan Benoa.
Dalam
mewujudkan tersedianya Kapal Mini LNG, BPPT tidak berjalan sendiri. Selain
pendanaannya didukung oleh BAPPENAS terkait Prioritas Riset Nasional, BPPT juga melibatkan beberapa stake holder seperti
Institusi Pendidikan (ITS) yang melakukan kajian sistem distribusi dan PT Biro
Klasifikasi Indonesia (Persero) dalam hal pengembangan rule kemaritiman serta
beberapa perusahaan industri perkapalan antara lain PT Lintech dan PT PAL
terkait dengan kesiapan galangan kapal. Sambutan
masyarakat maritim terhadap keberadaan Mini LNG Carrier ini sangat baik,
terbukti salah satu perusahaan pelayaran swasta PT Cumawis anak perusahaan dari
PT Samudera Indonesia telah menjalin kerjasama dengan BPPT untuk bersedia
mengoperasikannya.
Selain melakukan desain Kapal Mini LNG, BPPT juga melakukan
Inovasi pengembangan ISO Tank. Keberhasilan program ini akan menjadi tonggak sejarah
pertama kali, dimana Kapal Tanki pengangkut
LNG didesain dan dibangun didalam negeri. Hal ini sebagai upaya untuk
peningkatan TKDN dalam rangka kemandirian di bidang infrastruktur pasokan
energi.
Kebutuhan Kapal Mini LNG untuk distribusi LNG dalam rangka
memenuhi kebutuhan PLTG untuk rute Bali – Nusa Tenggara Barat – Nusa Tenggara
Timur berjumlah 32 kapal, untuk rute Bali dan Lombok berjumlah 7 kapal.
Sedangkan untuk Kepulauan
Maluku dan Papua Barat yang dipasok dari kilang LNG Tangguh dibutuhkan tidak
kurang dari 30 kapal.
Kapal
Mini LNG type LCT dengan muatan LNG dalam ISO Tank ini dipilih berdasarkan
alasan ekonomis. disamping keuntungan lain seperti: dapat melayani kebutuhan
PLTG di pulau-pulau kecil dengan kedalaman air terbatas, membutuhkan terminal
penerima berukuran kecil; dan kompleksitasnya lebih rendah.
Kapal Mini LNG Carrier type LCT ini memiliki dimensi 56 m dengan sarat air rendah
2,5 m dan geladak luas untuk mengangkut 36 Modul ISO Tank berukuran 20 feet
dengan kapasitas daya angkut 1000 CBM LNG.
Kapal
ini juga dilengkapi
dengan alat bongkar/muat Gantry Crane dan Ram Door, sehingga penanganan kargo lebih
mudah dan tidak memerlukan derek dan atau alat bongkar/ muat di pelabuhan/terminal
untuk memuat dan membongkar ISO Tank. Dengan demikian berarti dapat menghemat
biaya Loading-unLoading dan biaya penanganan muatan terminal secara signifikan.