Tuesday, December 16, 2025

PT Dok Pantai Lamongan DPL mengembangkan Green Shipyard

 PT Dok Pantai Lamongan (DPL) membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 626 kWp untuk meningkatkan efisiensi energi sebesar 20% dan mengurangi emisi karbon. Ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap Environmental, Social, and Governance (ESG) dan transisi energi bersih. Perusahaan juga memiliki program Go Green, Corporate Social Responsibility (CSR), dan penghijauan lingkungan. Inisiatif ini diapresiasi oleh Kementerian Perindustrian dan diharapkan dapat diikuti oleh perusahaan maritim lainnya. 

PT Dok Pantai Lamongan (DPL) sedang mengembangkan konsep Green Shipyard dengan fokus utama pada penggunaan energi terbarukan, terutama melalui peresmian PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) ground-mounted terbesar di galangan kapal Indonesia, sebagai upaya mengurangi emisi karbon dan mewujudkan industri maritim yang lebih hijau, sejalan dengan komitmen ESG (Environmental, Social, Governance). 

                                           Pintu masuk ke DPL

Pembangkit Listrik Tenaga Surya PT DPL

Kesibukan di PT DPL




Friday, October 10, 2025

Uji Resistance Harbour Tug Dual Fuel

 Untuk melakukan verifikasi karakteristik hidrodinamika kapal, maka dilakukan pengujian model hidrodinamika di Balai Teknologi Hidrodinamika (BTH), BPPT di Surabaya, berupa Pengujian resistance test untuk 2 (dua) kondisi sarat kapal yaitu full load dan trim dengan variasi kecepatan 8 knots sampai dengan 14 knots. Ukuran model menggunakan skala 1:10 seperti ditunjukkan pada Gambar 1, dan hasil pengujiannya pada Gambar 2 – Gambar 3.





Gambar 1 Pembuatan model pegujian hidrodinamika

 




Gambar 2. Pengujian di towing tank dan hasil resistance model kondisi full load





Gambar 3. Pengujian di towing tank dan hasil resistance model kondisi trim

 

Berdasarkan hasil pengujian tahanan (resistance) terhadap model Harbour Tug Dual Fuel, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

          Profil gelombang yang diamati sepanjang sisi lambung model kapal selama pengujian tahanan dianggap normal untuk jenis kapal ini.

Dari data hasil ekstrapolasi pengujian tahanan model Harbour Tug Dual Fuel pada kecepatan 12 knots, di dapat harga tahanan (resistance) pada kondisi full load sebesar 128 kN dan harga Power Effective (PE) sebesar 792 kW, untuk kondisi ballast load di dapatkan resistance sebesar 123 kN dan harga PE sebesar 757 Kw.

Wednesday, October 1, 2025

Kapal Tenggelam Al Isrok ayat 85


وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا ۝٨٥wa yas'alûnaka ‘anir-rûḫ, qulir-rûḫu min amri rabbî wa mâ ûtîtum minal-‘ilmi illâ qalîlâMereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.”

Saturday, September 20, 2025

Desain Kapal Harbour Tug Dual Fuel

Pada tahap analisis misi desain kapal harbour tug dual fuel akan menghasilkan usulan design requirement untuk desain awal (preliminary design) yang dapat ditingkatkan pada desain dasar (basic design) maupun desain kontrak (contract design) melalui verifikasi software maupung uji model hidrodinamika.



Dari pekerjaan-pekerjaan ini akan menghasilkan: ukuran utama kapal, garis bentuk (geometric) badan kapal, gambar rencana umum, rancangan layout kamar mesin, struktur utama konstruksi kapal. Bentuk lambung kapal dirancang sedemikian rupa dapat memenuhi kriteria kapal harbour tug boat dual fuel, yang mampu melayani aktivitas pelabuhan Arun Lhokseumawe. Kapal memiliki kemampuan olah gerak (maneuverability) dan stabilitas yang baik sesuai dengan ketentuan kelaiklautan kapal, sehingga berkinerja sebagaimana diharapkan.

Objektif dari Preliminary Design adalah sebagai berikut:

1)          Pemilihan ukuran utama kapal

2)         Pengembangan bentuk lambung kapal (bagian tercelup maupun bagian di atas sarat)

3)         Spesifikasi permesinan utama, system propulsi dan besarnya propulsi (powering)

4)          Perkiraan tipe dan powering mesin bantu

5)          Desain rencana umum

6)          Spesifikasi peralatan cargo handling

7)          Desain struktur utama untuk (longitudinal dan transversal)

8)          Perhitungan daya apung, stabilitas, trim dan freeboard

9)          Perhitungan tonase

 

Setelah pengerjaan Preliminary Design tersebut selesai maka dapat dilanjutkan ke iterasi desain berikutnya untuk hasil yang lebih mendetail lagi.

Data Umum

-              Length overall           : Approx.   32.00 m

-              Length between p.p.  : Approx.   31.37 m            

-              Breadth moulded       : Approx.    11.30 m

-        Depth moulded          : Approx.     5.25  

-              Draft max. moulded   : Approx.    4.20 m

-              Draft max. moulded (skeg): Approx. 5.26 m

-              Gross tonnage Less than             500 GT

Kapasitas


-      LNG

: Approx.

20

-      Fresh water

: Approx.

35

-      Fuel oil (MDO)

: Approx.

140

-      Foam

: Approx.

5

-      Dispersant

: Approx.

5

-      Lub oil

: Approx.

3

 

Akomodasi

Kapal akan diatur dengan akomodasi untuk 10 orang di 6 kabin sebagai berikut:

-              2 x 1 - berth cabins : 2 orang

-              4 x 2-berth cabins    : 8 orang

-              Total                       : 10 orang

 

Speed/Bollard Pull/Endurance Performance

Dalam cuaca yang tenang, trial speed kapal dengan clean hull di laut dalam akan mencapai sekitar 12,0 knot maksimal daya yang diberikan. Performa Bollard Pull pada 100% dari Maximum Continuous Rating (MCR) mesin utama tidak boleh kurang dari 60 metrik ton.

 

Ketentuan Desain

Mesin, peralatan, dan sistem kapal harus dirancang sesuai dengan kondisi lingkungan berikut:

-              Maksimal suhu luar sekitar                                : 35°C

-              Minimal suhu luar                                             : 1°C

-              Maksimal ambien relatif kelembapan luar          : 90%

-              Maksimal suhu air laut                                      : 32°C

-              Minimal suhur air laut                                        : 1°C


 

                   Basic Design 

 

Berdasarkan design requirement (hasil analisis misi) dan hasil kajian preliminary design kapal harbour tug dual fuel, maka diperoleh ukuran utama kapal ditunjukkan pada Tabel 2.1 dan lines plan kapal pada Gambar 2.1.

Adapun rincian basic design yang merupakan traget luaran tahun 2020 ditunjukkan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.1. Ukuran Utama Kapal Harbour Tug Dual Fuel

                        




 

 




 

Gambar 2.1. Lines plan dan General Arrangement kapal Harbour Tug Dual    Fuel


INOVASI MINI LNG CARRIER SEBAGAI SOLUSI MEMENUHI RANTAI PASOK DISTRIBUSI LNG SKALA KECIL DI INDONESIA

 

INOVASI MINI LNG CARRIER SEBAGAI SOLUSI MEMENUHI RANTAI PASOK DISTRIBUSI LNG SKALA KECIL DI INDONESIA

Saat ini bahan bakar minyak (BBM) merupakan sumber energi yang paling banyak digunakan di Indonesia. Namun ketersediaan BBM yang semakin berkurang mengakibatkan harga BBM semakin mahal. Gas Bumi merupakan salah satu cadangan energi yang dikembangkan oleh pemerinatah Indonesia sebagai alternatif untuk menjadikan negara ini mandiri dari bahan bakar minyak.

 


Untuk mengurangi ketergantungan akan BBM yang lebih efisien dan ekonomis, penggunaan LNG (Liquidfied Natural Gas) merupakan pilihan yang tepat sebagai bahan bakar di sektor pembangkit listrik tenaga gas, industri – industri, dan pemukiman.

Gas alam cair merupakan salah satu energi bersih yang memiliki emisi lebih rendah dari bahan bakar minyak dan efisien dibandingkan dengan bahan bakar minyak.

Dalam program RUPTL PLN, Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak di pembangkit listrik tenaga diesel dari 10% menjadi 6%. Pembangunan infrastruktur telah berkembang secara signifikan seperti dalam bentuk kilang LNG mini di Teluk Benoa, Bali untuk memasok pembangkit listrik tenaga gas sebesar 30 juta metrik standar kaki kubik per hari (mmscfd).

Volume gas alam dalam bentuk gas dibandingkan dengan Gas Alam Cair adalah 1:600. Dalam rantai pasokan LNG dari cadangan gas alam ke pembangkit listrik, gas alam memiliki penanganan kargo yang berbeda karena gas alam harus dicairkan terlebih dahulu menjadi -1620 Celcius sebelum dimasukkan dalam dalam ruang muat kapal LNG, sehingga proses transportasi dan distribusinya ke pembangkit atau industri  menjadi lebih  efisien.

Terdapat dua alternatif dalam menghubungkan sumber gas dan demand (pembangkit/industri) yaitu melalui jalur pipa gas dan kapal. Kapal menjadi solusi ekonomis bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dalam mendukung terpenuhinya distribusi gas kepada konsumen. Ketersediaan alat angkut maritim untuk distribusi gas belum didukung oleh kemampuan Indonesia dalam melakukan rekayasa kapal pengangkut LNG.

BPPT  sejak tahun 2020 telah mulai  melakukan Inovasi desain alat angkut maritim untuk memenuhi rantai pasok bahan bakar LNG, khususnya pada kondisi perairan dan fasilitas pendukung pelabuhan yang terbatas. Kapal Mini LNG  dengan type Landing Craft Tank (LCT) sebagai solusi alternative alat angkut LNG untuk memenuhi distribusi kebutuhan bahan bakar LNG untuk Pembangkit Listrik didaerah perairan terbatas. Kapal Mini LNG dirancang untuk  mengangkut LNG dalam ISO Tank ini diharapkan sudah selesai dibangun di akhir tahun 2022.

Kegiatan Inovasi ini sejalan dengan Inovasi Pengembangan Teknologi Maritim yang menjadi salah satu Prioritas Riset Nasional, berdasarkan RPJMN 2020-2024. Hal ini didasarkan pada urgensi bidang maritim khususnya pengadaan kapal baru, seperti diketahui bahwa kandungan lokal dalam pembangunan kapal baru berkisar 35% sedangkan 65% lainnya masih melalui impor.

Konsistensi pemerintah dalam mendukung tumbuhnya iklim industri maritim dan mengurangi ketergantungan pada produk impor ditunjukkan melalui penugasan kepada BPPT untuk melakukan Inovasi Kapal Angkut Gas Alam Cair sebagai salah satu PRN FLAGSHIP NASIONAL bidang Maritim. Kapal ini menjadi alternatif produk dalam negeri untuk pengangkutan LNG ke berbagai pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) skala kecil yang tersebar di wilayah kepulauan Indonesia khususnya wilayah Indonesia timur, dimana, seringkali distribusi LNG terkendala oleh kondisi jalur perairan laut dan sungai yang dangkal serta fasilitas pendukung pelabuhan yang terbatas .

Kondisi saat ini kebutuhan PLTG di Kepulauan Maluku dan Papua Barat dipasok dari kilang LNG Tangguh, sedangkan kebutuhan PLTG di pulau Bali dan Lombok dipasok dari fasilitas regasifikasi LNG pelabuhan Benoa.

Dalam mewujudkan tersedianya Kapal Mini LNG, BPPT tidak berjalan sendiri. Selain pendanaannya didukung oleh BAPPENAS terkait Prioritas Riset Nasional, BPPT juga  melibatkan beberapa stake holder seperti Institusi Pendidikan (ITS) yang melakukan kajian sistem distribusi dan PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) dalam hal pengembangan rule kemaritiman serta beberapa perusahaan industri perkapalan antara lain PT Lintech dan PT PAL terkait dengan kesiapan galangan kapal. Sambutan masyarakat maritim terhadap keberadaan Mini LNG Carrier ini sangat baik, terbukti salah satu perusahaan pelayaran swasta PT Cumawis anak perusahaan dari PT Samudera Indonesia telah menjalin kerjasama dengan BPPT untuk bersedia mengoperasikannya.

Selain melakukan desain Kapal Mini LNG, BPPT juga melakukan Inovasi pengembangan ISO Tank. Keberhasilan program ini akan menjadi tonggak sejarah pertama kali, dimana  Kapal Tanki pengangkut LNG didesain dan dibangun didalam negeri. Hal ini sebagai upaya untuk peningkatan TKDN dalam rangka kemandirian di bidang infrastruktur pasokan energi.

Kebutuhan Kapal Mini LNG untuk distribusi LNG dalam rangka memenuhi kebutuhan PLTG untuk rute Bali – Nusa Tenggara Barat – Nusa Tenggara Timur berjumlah 32 kapal, untuk rute Bali dan Lombok berjumlah 7 kapal. Sedangkan untuk Kepulauan Maluku dan Papua Barat yang dipasok dari kilang LNG Tangguh dibutuhkan tidak kurang dari 30 kapal.

Kapal Mini LNG type LCT dengan muatan LNG dalam ISO Tank ini dipilih berdasarkan alasan ekonomis. disamping keuntungan lain seperti: dapat melayani kebutuhan PLTG di pulau-pulau kecil dengan kedalaman air terbatas, membutuhkan terminal penerima berukuran kecil; dan kompleksitasnya lebih rendah.

Kapal Mini LNG Carrier type LCT ini memiliki dimensi 56 m dengan sarat air rendah 2,5 m dan geladak luas untuk mengangkut 36 Modul ISO Tank berukuran 20 feet dengan kapasitas daya angkut 1000 CBM LNG.

Kapal ini juga dilengkapi dengan alat bongkar/muat Gantry Crane dan Ram Door, sehingga penanganan kargo lebih mudah dan tidak memerlukan derek dan atau alat bongkar/ muat di pelabuhan/terminal untuk memuat dan membongkar ISO Tank. Dengan demikian berarti dapat menghemat biaya Loading-unLoading dan biaya penanganan muatan terminal secara signifikan.

Kebutuhan decommissioning anjungan lepas pantai pasca operasi

Kebutuhan decommissioning anjungan lepas pantai pasca operasi (ALPO) yang berada di perairan Indonesia sangat banyak, dan hal ini mestinya dilakukan dengan memanfaatkan sumberdaya nasional yang cukup tersedia, sehingga akan mengurangi ketergantungan asing dan dapat menghemat devisa negara, apalagi penyewaan fasilitas dari luar negeri tentunya sangat mahal. 

Sebagian besar dimensi substructure anjungan lepas pantai terpancang yang ada di Indonesia pada umumnya memiliki panjang lebih dari 50 meter bahkan sampai dengan 100 meter dengan berat sekitar 3000 ton. Untuk keperluan aktivitas decommissioning, salah satu wahana angkut ALPO tipe catamaran memiliki stabilitas yang baik. 



Memperhatikan kondisi di atas, maka sasaran dari analisis misi disain Wahana ALPO adalah menyediakan informasi yang diperlukan bagi kegiatan disain perancangan Wahana ALPO agar tepat sasaran sesuai dengan yang dibutuhkan, khususnya tepat bagi operasional misi wahana angkut ALPO di dalam menjalankan decommisissioning anjungan lepas pantai pasca operasi, sehingga diharapkan hasil desain dapat digunakan oleh pembangun kapal wahana ini sebagaimana diinginkan. 

Dengan demikian tujuan dari analisis misi disain Wahana ALPO adalah untuk merinci misi operasional wahana angkut ALPO sebagaimana diperlukan ke dalam bentuk format design requirements yang sangat diperlukan bagi langkah kegiatan perancangan kapal, sehingga diperoleh hasil desain kapal yang optimal.

Pemanfaatan disain kapal dan pembangunannya diharapkan dapat memberikan impact bagi pengguna atau operator ataupun pemilik kapal di dalam negeri di dalam penyediaan sarana kapal yang diperlukan untuk membongkar ALPO, dimana ALPO di perairan Indonesia sangat banyak dan perlu dibongkar untuk peningkatan keselamatan alur pelayaran nasional. 

Untuk melakukan pembangunan wahana angkut ALPO memerlukan biaya yang cukup tinggi. Sehingga perlu dilakukan Mission Analysis agar dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam menghasilkan disain yang sesuai dengan kebutuhan serta tepat sasaran. Untuk itu “design requirements” adalah data informasi kebutuhan awal bagi keperluan pelaksanaan disain.

Dengan tersedianya informasi misi pelaksanaan disain Wahana ALPO ini, maka dapat bermanfaat bagi perancang bangun kapal untuk melakukan disain dengan tepat yang juga terdukung oleh proses uji Laboratorium Hidrodinamika. 

Sebagai bahan informasi tambahan dapat diutarakan bahwa dari sisi pembiayaan, sewa tug boat berada pada kisaran rata-rata 6.000 USD/day, sewa Crane barge 35.000 USD/day, sehingga total cost untuk pembongkaran (decommisioning) sebuah anjungan Jacket platform menjadi sangat mahal jika dibandingkan dengan nilai berat total steel structure sebuah anjungan, hal ini adalah bila bisa dijual kembali.