Saturday, September 20, 2025

Desain Kapal Harbour Tug Dual Fuel

Pada tahap analisis misi desain kapal harbour tug dual fuel akan menghasilkan usulan design requirement untuk desain awal (preliminary design) yang dapat ditingkatkan pada desain dasar (basic design) maupun desain kontrak (contract design) melalui verifikasi software maupung uji model hidrodinamika.



Dari pekerjaan-pekerjaan ini akan menghasilkan: ukuran utama kapal, garis bentuk (geometric) badan kapal, gambar rencana umum, rancangan layout kamar mesin, struktur utama konstruksi kapal. Bentuk lambung kapal dirancang sedemikian rupa dapat memenuhi kriteria kapal harbour tug boat dual fuel, yang mampu melayani aktivitas pelabuhan Arun Lhokseumawe. Kapal memiliki kemampuan olah gerak (maneuverability) dan stabilitas yang baik sesuai dengan ketentuan kelaiklautan kapal, sehingga berkinerja sebagaimana diharapkan.

Objektif dari Preliminary Design adalah sebagai berikut:

1)          Pemilihan ukuran utama kapal

2)         Pengembangan bentuk lambung kapal (bagian tercelup maupun bagian di atas sarat)

3)         Spesifikasi permesinan utama, system propulsi dan besarnya propulsi (powering)

4)          Perkiraan tipe dan powering mesin bantu

5)          Desain rencana umum

6)          Spesifikasi peralatan cargo handling

7)          Desain struktur utama untuk (longitudinal dan transversal)

8)          Perhitungan daya apung, stabilitas, trim dan freeboard

9)          Perhitungan tonase

 

Setelah pengerjaan Preliminary Design tersebut selesai maka dapat dilanjutkan ke iterasi desain berikutnya untuk hasil yang lebih mendetail lagi.

Data Umum

-              Length overall           : Approx.   32.00 m

-              Length between p.p.  : Approx.   31.37 m            

-              Breadth moulded       : Approx.    11.30 m

-        Depth moulded          : Approx.     5.25  

-              Draft max. moulded   : Approx.    4.20 m

-              Draft max. moulded (skeg): Approx. 5.26 m

-              Gross tonnage Less than             500 GT

Kapasitas


-      LNG

: Approx.

20

-      Fresh water

: Approx.

35

-      Fuel oil (MDO)

: Approx.

140

-      Foam

: Approx.

5

-      Dispersant

: Approx.

5

-      Lub oil

: Approx.

3

 

Akomodasi

Kapal akan diatur dengan akomodasi untuk 10 orang di 6 kabin sebagai berikut:

-              2 x 1 - berth cabins : 2 orang

-              4 x 2-berth cabins    : 8 orang

-              Total                       : 10 orang

 

Speed/Bollard Pull/Endurance Performance

Dalam cuaca yang tenang, trial speed kapal dengan clean hull di laut dalam akan mencapai sekitar 12,0 knot maksimal daya yang diberikan. Performa Bollard Pull pada 100% dari Maximum Continuous Rating (MCR) mesin utama tidak boleh kurang dari 60 metrik ton.

 

Ketentuan Desain

Mesin, peralatan, dan sistem kapal harus dirancang sesuai dengan kondisi lingkungan berikut:

-              Maksimal suhu luar sekitar                                : 35°C

-              Minimal suhu luar                                             : 1°C

-              Maksimal ambien relatif kelembapan luar          : 90%

-              Maksimal suhu air laut                                      : 32°C

-              Minimal suhur air laut                                        : 1°C


 

                   Basic Design 

 

Berdasarkan design requirement (hasil analisis misi) dan hasil kajian preliminary design kapal harbour tug dual fuel, maka diperoleh ukuran utama kapal ditunjukkan pada Tabel 2.1 dan lines plan kapal pada Gambar 2.1.

Adapun rincian basic design yang merupakan traget luaran tahun 2020 ditunjukkan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.1. Ukuran Utama Kapal Harbour Tug Dual Fuel

                        




 

 




 

Gambar 2.1. Lines plan dan General Arrangement kapal Harbour Tug Dual    Fuel


INOVASI MINI LNG CARRIER SEBAGAI SOLUSI MEMENUHI RANTAI PASOK DISTRIBUSI LNG SKALA KECIL DI INDONESIA

 

INOVASI MINI LNG CARRIER SEBAGAI SOLUSI MEMENUHI RANTAI PASOK DISTRIBUSI LNG SKALA KECIL DI INDONESIA

Saat ini bahan bakar minyak (BBM) merupakan sumber energi yang paling banyak digunakan di Indonesia. Namun ketersediaan BBM yang semakin berkurang mengakibatkan harga BBM semakin mahal. Gas Bumi merupakan salah satu cadangan energi yang dikembangkan oleh pemerinatah Indonesia sebagai alternatif untuk menjadikan negara ini mandiri dari bahan bakar minyak.

 


Untuk mengurangi ketergantungan akan BBM yang lebih efisien dan ekonomis, penggunaan LNG (Liquidfied Natural Gas) merupakan pilihan yang tepat sebagai bahan bakar di sektor pembangkit listrik tenaga gas, industri – industri, dan pemukiman.

Gas alam cair merupakan salah satu energi bersih yang memiliki emisi lebih rendah dari bahan bakar minyak dan efisien dibandingkan dengan bahan bakar minyak.

Dalam program RUPTL PLN, Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak di pembangkit listrik tenaga diesel dari 10% menjadi 6%. Pembangunan infrastruktur telah berkembang secara signifikan seperti dalam bentuk kilang LNG mini di Teluk Benoa, Bali untuk memasok pembangkit listrik tenaga gas sebesar 30 juta metrik standar kaki kubik per hari (mmscfd).

Volume gas alam dalam bentuk gas dibandingkan dengan Gas Alam Cair adalah 1:600. Dalam rantai pasokan LNG dari cadangan gas alam ke pembangkit listrik, gas alam memiliki penanganan kargo yang berbeda karena gas alam harus dicairkan terlebih dahulu menjadi -1620 Celcius sebelum dimasukkan dalam dalam ruang muat kapal LNG, sehingga proses transportasi dan distribusinya ke pembangkit atau industri  menjadi lebih  efisien.

Terdapat dua alternatif dalam menghubungkan sumber gas dan demand (pembangkit/industri) yaitu melalui jalur pipa gas dan kapal. Kapal menjadi solusi ekonomis bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dalam mendukung terpenuhinya distribusi gas kepada konsumen. Ketersediaan alat angkut maritim untuk distribusi gas belum didukung oleh kemampuan Indonesia dalam melakukan rekayasa kapal pengangkut LNG.

BPPT  sejak tahun 2020 telah mulai  melakukan Inovasi desain alat angkut maritim untuk memenuhi rantai pasok bahan bakar LNG, khususnya pada kondisi perairan dan fasilitas pendukung pelabuhan yang terbatas. Kapal Mini LNG  dengan type Landing Craft Tank (LCT) sebagai solusi alternative alat angkut LNG untuk memenuhi distribusi kebutuhan bahan bakar LNG untuk Pembangkit Listrik didaerah perairan terbatas. Kapal Mini LNG dirancang untuk  mengangkut LNG dalam ISO Tank ini diharapkan sudah selesai dibangun di akhir tahun 2022.

Kegiatan Inovasi ini sejalan dengan Inovasi Pengembangan Teknologi Maritim yang menjadi salah satu Prioritas Riset Nasional, berdasarkan RPJMN 2020-2024. Hal ini didasarkan pada urgensi bidang maritim khususnya pengadaan kapal baru, seperti diketahui bahwa kandungan lokal dalam pembangunan kapal baru berkisar 35% sedangkan 65% lainnya masih melalui impor.

Konsistensi pemerintah dalam mendukung tumbuhnya iklim industri maritim dan mengurangi ketergantungan pada produk impor ditunjukkan melalui penugasan kepada BPPT untuk melakukan Inovasi Kapal Angkut Gas Alam Cair sebagai salah satu PRN FLAGSHIP NASIONAL bidang Maritim. Kapal ini menjadi alternatif produk dalam negeri untuk pengangkutan LNG ke berbagai pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) skala kecil yang tersebar di wilayah kepulauan Indonesia khususnya wilayah Indonesia timur, dimana, seringkali distribusi LNG terkendala oleh kondisi jalur perairan laut dan sungai yang dangkal serta fasilitas pendukung pelabuhan yang terbatas .

Kondisi saat ini kebutuhan PLTG di Kepulauan Maluku dan Papua Barat dipasok dari kilang LNG Tangguh, sedangkan kebutuhan PLTG di pulau Bali dan Lombok dipasok dari fasilitas regasifikasi LNG pelabuhan Benoa.

Dalam mewujudkan tersedianya Kapal Mini LNG, BPPT tidak berjalan sendiri. Selain pendanaannya didukung oleh BAPPENAS terkait Prioritas Riset Nasional, BPPT juga  melibatkan beberapa stake holder seperti Institusi Pendidikan (ITS) yang melakukan kajian sistem distribusi dan PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) dalam hal pengembangan rule kemaritiman serta beberapa perusahaan industri perkapalan antara lain PT Lintech dan PT PAL terkait dengan kesiapan galangan kapal. Sambutan masyarakat maritim terhadap keberadaan Mini LNG Carrier ini sangat baik, terbukti salah satu perusahaan pelayaran swasta PT Cumawis anak perusahaan dari PT Samudera Indonesia telah menjalin kerjasama dengan BPPT untuk bersedia mengoperasikannya.

Selain melakukan desain Kapal Mini LNG, BPPT juga melakukan Inovasi pengembangan ISO Tank. Keberhasilan program ini akan menjadi tonggak sejarah pertama kali, dimana  Kapal Tanki pengangkut LNG didesain dan dibangun didalam negeri. Hal ini sebagai upaya untuk peningkatan TKDN dalam rangka kemandirian di bidang infrastruktur pasokan energi.

Kebutuhan Kapal Mini LNG untuk distribusi LNG dalam rangka memenuhi kebutuhan PLTG untuk rute Bali – Nusa Tenggara Barat – Nusa Tenggara Timur berjumlah 32 kapal, untuk rute Bali dan Lombok berjumlah 7 kapal. Sedangkan untuk Kepulauan Maluku dan Papua Barat yang dipasok dari kilang LNG Tangguh dibutuhkan tidak kurang dari 30 kapal.

Kapal Mini LNG type LCT dengan muatan LNG dalam ISO Tank ini dipilih berdasarkan alasan ekonomis. disamping keuntungan lain seperti: dapat melayani kebutuhan PLTG di pulau-pulau kecil dengan kedalaman air terbatas, membutuhkan terminal penerima berukuran kecil; dan kompleksitasnya lebih rendah.

Kapal Mini LNG Carrier type LCT ini memiliki dimensi 56 m dengan sarat air rendah 2,5 m dan geladak luas untuk mengangkut 36 Modul ISO Tank berukuran 20 feet dengan kapasitas daya angkut 1000 CBM LNG.

Kapal ini juga dilengkapi dengan alat bongkar/muat Gantry Crane dan Ram Door, sehingga penanganan kargo lebih mudah dan tidak memerlukan derek dan atau alat bongkar/ muat di pelabuhan/terminal untuk memuat dan membongkar ISO Tank. Dengan demikian berarti dapat menghemat biaya Loading-unLoading dan biaya penanganan muatan terminal secara signifikan.

Kebutuhan decommissioning anjungan lepas pantai pasca operasi

Kebutuhan decommissioning anjungan lepas pantai pasca operasi (ALPO) yang berada di perairan Indonesia sangat banyak, dan hal ini mestinya dilakukan dengan memanfaatkan sumberdaya nasional yang cukup tersedia, sehingga akan mengurangi ketergantungan asing dan dapat menghemat devisa negara, apalagi penyewaan fasilitas dari luar negeri tentunya sangat mahal. 

Sebagian besar dimensi substructure anjungan lepas pantai terpancang yang ada di Indonesia pada umumnya memiliki panjang lebih dari 50 meter bahkan sampai dengan 100 meter dengan berat sekitar 3000 ton. Untuk keperluan aktivitas decommissioning, salah satu wahana angkut ALPO tipe catamaran memiliki stabilitas yang baik. 



Memperhatikan kondisi di atas, maka sasaran dari analisis misi disain Wahana ALPO adalah menyediakan informasi yang diperlukan bagi kegiatan disain perancangan Wahana ALPO agar tepat sasaran sesuai dengan yang dibutuhkan, khususnya tepat bagi operasional misi wahana angkut ALPO di dalam menjalankan decommisissioning anjungan lepas pantai pasca operasi, sehingga diharapkan hasil desain dapat digunakan oleh pembangun kapal wahana ini sebagaimana diinginkan. 

Dengan demikian tujuan dari analisis misi disain Wahana ALPO adalah untuk merinci misi operasional wahana angkut ALPO sebagaimana diperlukan ke dalam bentuk format design requirements yang sangat diperlukan bagi langkah kegiatan perancangan kapal, sehingga diperoleh hasil desain kapal yang optimal.

Pemanfaatan disain kapal dan pembangunannya diharapkan dapat memberikan impact bagi pengguna atau operator ataupun pemilik kapal di dalam negeri di dalam penyediaan sarana kapal yang diperlukan untuk membongkar ALPO, dimana ALPO di perairan Indonesia sangat banyak dan perlu dibongkar untuk peningkatan keselamatan alur pelayaran nasional. 

Untuk melakukan pembangunan wahana angkut ALPO memerlukan biaya yang cukup tinggi. Sehingga perlu dilakukan Mission Analysis agar dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam menghasilkan disain yang sesuai dengan kebutuhan serta tepat sasaran. Untuk itu “design requirements” adalah data informasi kebutuhan awal bagi keperluan pelaksanaan disain.

Dengan tersedianya informasi misi pelaksanaan disain Wahana ALPO ini, maka dapat bermanfaat bagi perancang bangun kapal untuk melakukan disain dengan tepat yang juga terdukung oleh proses uji Laboratorium Hidrodinamika. 

Sebagai bahan informasi tambahan dapat diutarakan bahwa dari sisi pembiayaan, sewa tug boat berada pada kisaran rata-rata 6.000 USD/day, sewa Crane barge 35.000 USD/day, sehingga total cost untuk pembongkaran (decommisioning) sebuah anjungan Jacket platform menjadi sangat mahal jika dibandingkan dengan nilai berat total steel structure sebuah anjungan, hal ini adalah bila bisa dijual kembali. 

Monday, September 8, 2025

Analisis misi kapal tunda pelabuhan berbahan bakar ganda.

 Analisis misi kapal tunda pelabuhan berbahan bakar ganda.

Kapal Tunda Pelabuhan (Harbour Tug) berfungsi sebagai sarana bantu pemanduan adalah kapal dengan karakteristik tertentu digunakan untuk kegiatan mendorong, menarik, menggandeng, mengawal (escort), dan membantu (assist) kapal yang berolah-gerak di alur-pelayaran, daerah labuh jangkar maupun kolam pelabuhan, baik untuk bertambat ke atau untuk melepas dari dermaga dan fasilitas tambat lainnya, merupakan satu kesatuan sistem transportasi laut di Indonesia.

International Maritime Organization (IMO) memberlakukan regulasi lingkungan yang ketat mulai awal tahun 2015 lalu, dimana emisi SOx dan NOx dibatasi maksimal 0.1% untuk kawasan Emmision Control Area (ECA). Di luar ECA, regulasi IMO tersebut akan diberlakukan mulai tahun 2020, sesuai dengan MARPOL Annex VI terkait emisi (SOx dan NOx), dimana batas emisi yang dihasilkan oleh kapal tidak melebihi 0.50% m/m setelah 1 januari 2020 (IMO, 2009). serta penggunaan bahan bakar ganda (dual fuel) HSD/HFO dan LNG pada kapal tunda pelabuhan (harbor tug) akan mendukung Pasal 36 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 29 Tahun 2014 tentang Pencegahan Pencemaran Lingkungan Maritim dan Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor UM.003/93/ 14/DJPL-18, tanggal 30 Oktober 2018 tentang Batasan Kandungan Sulfur Pada Bahan Bakar dan Kewajiban Penyampaian Konsumsi Bahan Bakar di Kapal.

Sebagai negara eksportir LNG terbesar ke-5 dunia, dan pionir dalam industri LNG, sangat cukup bagi Indonesia untuk mempersiapkan industri pelayaran nasionalnya agar tidak kehilangan daya saing di percaturan transportasi laut internaional. Mengacu pada keadaan tersebut, banyak pemilik kapal mulai berpindah dari mesin diesel ke mesin dual fuel.

Analisis misi desain kapal tunda pelabuhan ini merekomendasikan design requirement untuk desain awal (preliminiary design) dan dapat ditingkatkan pada desain dasar (basic design) maupun desain kontrak (contract design) dengan verifikasi software maupun uji model hidrodinamika. Desain kapal tunda pelabuhan berbahan bakar ganda (harbor tug dual fuel) ini dipersyaratkan sesuai Permenhub, Nomor: Pm 57 Tahun 2015, Bab VI, Pasal 38 ayat (3) yaitu untuk panjang kapal 250 meter ke atas paling sedikit 3 unit kapal tunda dengan jumlah daya paling rendah 11.000 HP dan jumlah gaya tarik paling rendah 125 ton Bollard Pull.

Sunday, September 7, 2025

Ancaman Keselamatan Pelayaran atas adanya Anjungan Lepas Pantai Pasca Operasi (ALPO)

 

Ancaman Keselamatan Pelayaran atas adanya Anjungan Lepas Pantai Pasca Operasi (ALPO)

Dengan banyaknya ladang minyak yang sudah tidak produktif dan tidak menghasilkan minyak bumi menjadikan perlu dilakukan pembongkaran agar tidak menjadi halangan bagi pelayaran kapal ataupun menjadi ancaman bagi keselamatan pelayaran kapal. Untuk hal ini perlu adanya sarana bongkar dan angkut anjungan lepas pantai pasca operasi (ALPO) untuk mendukung proses decommissioning (pembongkaran).

Data tahun 2014 menyatakan   bahwa dari sekitar 600unit anjungan lepas pantai (rig) yang ada di Indonesia terdapat 4-8% di antaranya sudah tidak beroperasi dan tidak digunakan lagi. Anjungan minyak lepas pantai di Indonesia, di antaranya tersebar di Laut Jawa, Perairan Kalimantan Timur, Perairan Timur Laut Sumatera dan Perairan Natuna.  Sekitar 170 platform telah berumur 20 tahun atau lebih yang beroperasi, di mana usia anjungan lepas pantai umumnya antara 20-40 tahun. Struktur bangunan lepas pantai (anjungan) di Indonesia terletak di sekitar Pulau Jawa (65%), Kalimantan Timur (25%) dan sisanya terletak di Selat Malaka, Natuna  dan Jatim. Kurang lebih 40% anjungan tersebut berkaki empat, 34% berkaki tiga dan sisanya adalah monopod.

Anjungan Lepas Pantai Pasca Operasi (ALPO) ini tentunya juga mengganggu jalur pelayaran nasional yang kebetulan berhimpit dengan lokasi anjungan lepas pantai. Khusus untuk anjungan yang tidak beroperasi berdasarkan PP No. 35 Tahun 2004 pasal 78 ayat 1 dan perjanjian dalam Production Sharing Contract (PSC) tahun 1976–1988 keberadaan anjungan ini menjadi tanggung jawab pemerintah untuk membongkar atau memanfaatkannya untuk sebagai fungsi lain. Selain itu, sebagai salah satu negara anggota IMO menjadi kewajiban negara pula untuk membongkarnya berdasarkan peraturan dari IMO 1989.

Biaya pembongkaran suatu anjungan migas lepas pantai mencapai 60 Juta Dolar Amerika per anjungan di mana beban terbesar dari sewa wahana angkut ALPO (Decommisioning Vessel), sehingga   sudah saatnya Indonesia tidak sewa namun melaksanakan desain dan pembangunan Wahana angkut Anjungan Lepas Pantai Pasca Operasi (ALPO) dengan kemampuan nasional. Hal ini sangatlah tepat untuk menghemat biaya pembongkaran (decommissioning).

Gas Alam Cair (LNG) sebagai Bahan Bakar Mesin Kapal

 

Gas Alam Cair (LNG) sebagai Bahan Bakar Mesin Kapal

Pemanfaatan LNG sebagai bahan bakar mesin penggerak kapal, sangat perlu untuk dikembangkan.  Hal ini seiring dengan kebutuhan bahan bakar ramah lingkungan dan target IMO untuk mengurangi emisi gas buang dari kegiatan operasional kapal. Oleh karenanya kapal dengan dual fuel system menjadi salah satu solusi yang tepat bagi Indonesia. Perkembangan teknologi kapal berbahan bakar LNG di dunia berkembang pesat dan didukung oleh regulasi yang kuat. Hal tersebut belum terjadi di Indonesia. Hingga tahun 2019 ini, baru satu kapal berbahan bakar LNG dengan sistem dual fuel, yaitu Harbour tug dual fuel milik PT. Pertamina Trans Kontinental (anak Perusahaan Pertamina) yang akan dioperasikan untuk mendukung Perta Arun.  Penelitian-penelitian yang menunjang perkembangan teknologi mesin kapal berbahan bakar LNG maupun dual fuel sudah selayaknya menjadi prioritas bagi bangsa Indonesia.

 Hal tersebut di atas dengan pertimbangan bahwa Indonesia sebagai Negara kelautan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia membutuhkan armada kapal dalam jumlah banyak dalam menjamin konektivitas dan distribusi logistik di seluruh wilayah Indonesia, juga membutuhkan armada kapal pendukung lainnya.  Armada tersebut harus   memenuhi   standar   keselamatan   yang   berlaku,  baik   dari   aspek   teknis keselamatan kapalnya (konstruksi, stabilitas kapal, dan sistem terkait), maupun aspek keselamatan muatan (penumpang dan barang) dan ramah terhadap lingkungan di sekitarnya.

Untuk kapal-kapal ukuran besar yang akan berlabuh dan sandar di pelabuhan dibutuhkan armada kapal tunda pelabuhan atau sering disebut juga Harbour Tug untuk keperluan olah gerak kapal di kolam pelabuhan serta menjamin keselamatan dan perlindungan perairan menuju ke pelabuhan untuk sandar dan bongkar muat. Semakin ketatnya peraturan mengenai pembatasan kadar partikel gas buang seperti CO, Sox, NOx dll. Dan juga ketentuan serta persyaratan aspek lingkungan hidup terutama berkaitan dengan polusi udara, maka menuntut dikembangkannya teknologi green energy seperti penggunaan dual fuel pada armada kapal tunda di pelabuhan (Harbour Tug).

Dual fuel system adalah salah satu sistem bahan bakar yang beroperasi dengan menggunakan Liquid Natural Gas (LNG) dan Marine Diesel Oil (MDO) secara bersamaan. Dalam hal ini, MDO menjadi pemantik yang mampu terbakar secara otomatis saat langkah kompresi dan selanjutnya membakar gas LNG yang tercampur dengan udara dan masuk pada ruang bakar.

Dengan beralihnya penggunaan bahan bakar dari minyak ke gas bumi maka menyebabkan munculnya ladang eksplorasi baru untuk menambang gas bumi.

Saturday, September 6, 2025

Pasokan Gas Alam Cair (LNG) untuk PLN/PLTMG Kawasan Timur Indonesia

 

                 Pasokan Gas Alam Cair (LNG) untuk PLN/PLTMG Kawasan Timur Indonesia

Gas alam seperti halnya dengan minyak bumi, terbentuk secara alamiah dan dieksplorasi dari lokasi sumur gas yang terletak jauh dari konsumen. Penggunaan pipa sebagai sistem transmisi dan distribusi, memiliki beberapa kekurangan yaitu hanya untuk jarak yang relatif dekat, dan jalur bersifat tetap (fix distribution system), dengan kata lain masih diperlukan sarana distribusi alternatif yang mampu mengangkut gas dalam jumlah besar dan tidak terikat batasan jarak. Cara yang paling efektif untuk mengangkut gas yaitu dalam bentuk cair dengan menggunakan kapal. Transportasi LNG sangatlah tergantung dengan teknologi kapal LNG, yang mana teknologi ini telah dikembangkan lebih dari 50 tahun yang lalu.

Permintaan kebutuhan gas bumi sebagai salah satu sumber energi di wilayah Indonesia khususnya bagian timur semakin meningkat dari tahun ke tahun. Seiring dengan berjalannya program listrik 35.000 MW yang telah dicanangkan oleh pemerintah saat ini, kebutuhan gas tersebut diprediksi akan terus meningkat ketika gas bumi tersebut akan digunakan sebagai bahan bakar utama pembangkit tenaga listrik menggantikan minyak diesel yang mempunyai biaya kelistrikan (electricity cost) lebih tinggi dibandingkan gas bumi.

Terkait dengan penyediaan infrastruktur energi, rencana usaha penyediaan tenaga listrik PT. PLN (Persero) tahun 2018-2027 yang berkesinambungan dari RUPTL 2015-2024, RUPTL 2017-2026, menggariskan kebijakan untuk mitigasi perubahan iklim global di antaranya dengan pengalihan bahan bakar (fuel switching). Dengan motif untuk mengurangi pemakaian BBM, PLN berencana mengalihkan pemakaian BBM ke gas pada PLTG, PLTGU dan PLTMG (gas engine). Langkah fuel switching secara langsung juga akan mengurangi emisi Gas Rumah Kaca karena faktor emisi gas lebih rendah daripada faktor emisi BBM. Namun mengingat harga gas dari LNG masih dinilai sangat tinggi, maka gas ini hanya ekonomis untuk dipakai di pembangkit peaking, bukan pembangkit beban dasar. PLN merencanakan pemanfaatan LNG untuk pembangkit beban puncak dan pembangkit yang bersifat must-run di sistem kelistrikan Jawa - Bali dan Sumatera. Pada tahun 2012 telah mulai beroperasi FSRU Jakarta untuk memasok pembangkit Muara Karang dan Priok.

Rencana FSRU Belawan telah dibatalkan oleh Pemerintah dan sebagai gantinya Pemerintah akan merevitalisasi fasilitas LNG Arun sebagai storage dan regasifikasi LNG. Sumber LNG untuk FSRU Jakarta pada saat ini berasal dari lapangan Bontang dan Tangguh, dan sumber LNG untuk Arun direncanakan dari lapangan Tangguh. Sedangkan di Kawasan Timur Indonesia, PLN merencanakan pemanfaatan mini-LNG untuk pembangkit beban puncak pada sistem-sistem besar di Kalimantan dan Sulawesi.

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan mini-LNG juga akan dimanfaatkan untuk pembangkit beban dasar sekaligus beban puncak pada sistem-sistem kecil yang banyak tersebar. Hal ini disebabkan biaya pokok produksi PLTMG dengan mini-LNG diperkirakan masih lebih ekonomis dibanding pembangkit BBM, juga lebih andal. 

Untuk   pembangkit   listrik    kawasan    Timur    Indonesia    dengan perkiraan kebutuhan gas 105 BBTUD direncanakan dipasok dari lapangan Matindok, lapangan Tangguh, dan lapangan Salawati dalam rangka mendukung program Papua terang. (RUPTL PLN 2017-2026, 2017). Berdasarkan kebutuhan LNG untuk bahan bakar pembangkit listrik di seluruh kawasan Timur Indonesia, maka kebutuhan untuk Smalll Scale LNG Carrier sangat diperlukan untuk kawasan Timur Indonesia. Selain itu komponen kapal Mini LNG ini juga unik jika dibandingkan jenis kapal lainnya, baik dari sisi sistem penggeraknya maupun sistem peralatan untuk handling LNG agar tetap terjaga kualitas dan safetynya.

Disisi lain penggunaan pipa sebagai sistem transmisi dan distribusi, memiliki beberapa kekurangan yaitu hanya untuk jarak yang relatif dekat, dan jalur bersifat tetap (fix distribution system), dengan kata lain masih diperlukan sarana distribusi alternatif yang mampu mengangkut gas dalam jumlah besar dan tidak terikat batasan jarak.

Cara yang paling efektif untuk mengangkut gas yaitu dalam bentuk cair dengan menggunakan kapal. Transportasi LNG sangatlah tergantung dengan teknologi kapal LNG termasuk cara handlingnya.