Friday, September 5, 2025

Rantai Pasok LNG di Indonesia Timur

 

Rantai Pasok LNG di Indonesia Timur

Rantai pasok didefinisikan sebagai jaringan dalam suatu organisasi atau antara beberapa organisasi yang melibatkan pengadaan bahan baku, konversi dari bahan baku sampai produk akhir, dan distribusi produk akhir ke pasar. Dengan demikian rantai pasok LNG dapat diartikan sebagai jaringan gas alam dari ladang gas dimana gas diproduksi kemudian dialirkan ke liquefaction plant untuk mengubah fase gas menjadi cair yang kemudian disimpan di kilang LNG storage tank dan selanjutnya LNG didistribusikan ke konsumen pengguna gas atau disebut dengan end user.

Rantai pasok LNG berawal dari ladang gas dimana gas diproduksi kemudian dialirkan ke liquefaction plant untuk menghilangkan zat pengotor atau kontaminan seperti karbon dioksida, air dan belerang. Setelah kontaminan atau kotoran dihilangkan, gas bumi didinginkan hingga -1600C sehingga gas bumi berubah fase menjadi cair dan kemudian dialirkan menuju tangki penyimpanan (storage tank). Dari tangki penyimpanan, LNG dialirkan dan dimuat pada kapal pengangkut LNG (LNG carrier) menuju terminal penerima (receiving terminal). Sebelum sampai ke pengguna atau end user, LNG terlebih dahulu diubah fase menjadi gas kembali pada proses regasification unit yang berada di terminal penerima


LNG merupakan salah satu solusi pada kasus transportasi gas bumi dengan volume besar dan jarak yang jauh serta tidak terdapat fasilitas pipa gas. Menurut data yang dikeluarkan ENI, LNG akan lebih ekonomis dibandingkan transportasi gas melalui pipa bawah laut pada jarak lebih dari 1,300 nautical mile. Tentu hal ini tidak dapat dijadikan patokan melihat geografis kedalaman laut di wilayah Indonesia yang memiliki banyak palung dan pada daratannya terdiri dari pegunungan.

Penggunaan gas sebagai bahan bakar untuk pembangkit di Indonesia sudah banyak dilakukan. Salah satunya pada tahun 2016 PT PLN bekerja sama dengan anak perusahaan BUMN untuk mendistribusikan gas bumi dari kilang LNG di Bontang menuju pembangkit di Pesanggaran Bali. Distrisbusi dilakukan dengan menggunakan kapal pengangkut LNG berukuran kecil (Small LNGc) bermuatan 23,000m3 LNG. Di pelabuhan Benoa dibangun

sebuah terminal penerima terapung dengan fasilitas regasifikasi LNG berserta pipa gas darat yang akan mendistribusikan menuju ke pembangkit. Berdasarkan penjelasan anggota Direktorat Jendral Minyak dan Gas dalam konferensi Green-Eco Energy di Bali, distribusi di bali dijadikan sebuah contoh dalam distribusi LNG yang menyesuaikan dengan kondisi di Indonesia yang tersebar di beberapa pulau dan dipisahkan oleh perairan. Penggunaan Kapal LNG Skala Mini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan distribusi LNG di Bali dapat dilaksanakan secara cost efficient.

Konsep transportasi LNG dengan menggunakan kapal LNG berukuran kecil akan dikembangkan untuk mengakomodasi permintaan gas dari pembangkit pada beberapa lokasi di Indonesia. Kegiatan transportasi atau distribusi LNG dari sumber ke konsumen merupakan kegiatan penting dalam rantai pasok LNG. Hal ini disebabkan karena metode yang dipilih untuk transportasi atau distribusi LNG akan mempengaruhi harga dan performa suplai LNG. Tentunya dalam penggunaan kapal LNG berukuran kecil akan memiliki biaya transportasi per volume LNG yang lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan kapal yang lebih besar dengan jarak yang sama. Namun, dengan pemilihan kapal LNG berukuran kecil memiliki keuntungan dari sisi fleksibilitas persyaratan kedalaman, biaya sewa yang lebih murah serta kesesuaian dengan permintaan suplai LNG yang kecil di wilayah Papua.


No comments:

Post a Comment